Sudah 10 tahun Indonesia hidup dalam sebuah alam yang katanya dinamakan Reformasi. Perubahan yang besar terjadi setelah turunnya pak Harto dari kekuasaannya sebagai Presiden. Jalan yang ditempuh Indonesia makin berliku. Harapan muncul ketika teriakan reformasi dikumandangkan hampir di seluruh pelosok nusantara. Reformasi menjadi dambaan masyarakat Indonesia untuk dapat membawa masyarakat Indonesia pada taraf hidup yang lebih baik dan segera dapat mewujudkan cita-cita pembangunan nasional yaitu menuju masyarakat yang adil dan makmur.
Hari berganti hari, minggu menjadi bulan dan akhirnya tahun berlanjut. Pembangunan yang diharapkan ternyata tidak semudah itu. Dengan munculnya reformasi maka semakin terbuka luas kesempatan berpolitik. Hal ini ditandai dengan munculnya banyak partai politik yang mengikuti Pemilu di Indonesia. Ini pertanda baik karena saluran berpolitik masyarakat semakin banyak.
Sisi baik dari banyaknya partai politik ternyata juga membawa implikasi negatif karena masyarakat semakin bingung memilih saluran aspirasinya. Banyak orang mendirikan partai politik namun akhirnya mereka hanya memikirkan cara bagaimana bisa memenangkan Pemilu dan mendapatkan kursi yang mendominasi parlemen.
Hal ini diperparah dengan tidak berjalannya kaderisasi wakil partai yang duduk di parlemen. Partai-partai tersebut terkesan sembarangan dalam menaruh wakilnya di parlemen sehingga ketika sistem perwakilan rakyat yang semestinya berjalan akhirnya kacau karena mereka yang duduk di parlemen tidak sesuai dengan bidangnya.
Mereka yang duduk di parlemen banyak yang hanya menjadi penghias gedung. Banyak dari mereka yang hanya datang ketika ada rapat paripurna. Bahkan ada pula yang tidak pernah menampakkan batang hidungnya ketika ada rapat-rapat yang membahas kesejahteraan rakyat, nasib rakyat yang memilihnya sehingga beliau duduk menjadi anggota parlemen.
Sungguh ironis ketika KPK menangkap beberapa anggota parlemen yang diindikasikan menerima gratifikasi dari beberapa proyek di beberapa daerah. Hal yang semestinya tidak boleh dilakukan oleh mereka yang mengaku sebagai wakil rakyat. Mereka hanya mementingkan diri sendiri dengan memanfaatkan kedudukan mereka sebagai anggota parlemen dengan menerima 'hadiah' yang tidak semestinya.
Sudah saatnya rakyat Indonesia kembali disadarkan untuk tidak terjebak dengan janji-janji manis dari politikus busuk yang hanya menambah kesengsaraan rakyat Indonesia. Sebagai politisi sudah seharusnya mereka dapat menjunjung martabat dan kewibawaan mereka dengan jalan berpolitik dengan santun dan tidak menyakiti hati rakyatnya.
Berpolitik dengan santun salah satunya adalah dengan tidak mengobral janji. Janji adalah hutang, dan jika kita berhutang maka kita wajib membayarnya. Bermain di dunia politik bukan berarti menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Banyak rambu dan norma yang harus ditaati.
MALU...malu jadi benalu
Yang bisanya cuma minta melulu
[Deddy Mizwar, Mei 2008]
Jumat, Mei 23, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar