Sabtu, Mei 03, 2008

Mangan Ora Mangan Kumpul

Pepatah Jawa ada yang mengatakan "Mangan Ora Mangan Kumpul" yang menggambarkan semangat kebersamaan masyarakat Jawa yang menggambarkan bahwa meskipun hidup sederhana apa adanya tapi mereka akan tetap merasa bahagia asalkan tetap berkumpul bersama.


Pepatah Jawa tersebut juga menjadi judul sebuah buku yang dikarang oleh Umar Kayam. Umar Kayam pernah menjabat sebagai Guru Besar Sastra Universitas Gadjah Mada (1978-1997) juga pernah antara lain menjadi Direktur Jenderal (Dirjen) Radio, Televisi, Film Departemen Penerangan (1966-1969) serta Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1969-1972).
Ia juga pernah memerankan Presiden Soekarno, pada film Pengkhianatan G 30 S/PKI.
Umar Kayam wafat pada 16 Maret 2002 setelah menderita patah tulang paha pangkal kiri. Umar Kayam meninggalkan seorang istri dan enam anak.


Buku "Mangan Ora Mangan Kumpul" merupakan buku berseri yang terdiri dari 4 buah buku yang 3 lainnya adalah 'Sugih Tanpa Bandha"; "Madhep Ngalor Sugih Madhep Ngidul Sugih"; dan "Satrio Piningit ing Kampung Pingit".


Ke-4 buku tadi sebenarnya merupakan gambaran hidup sehari-hari Umar Kayam sebagai seorang dosen di UGM yang hidup dalam kesederhanaan sebagai PNS (KORPRI). Tokoh-tokoh yang tampil dalam buku itu antara lain pasangan pembantu rumah tangga Mister Rigen dan Miss Nansiyem yang memiliki 2 orang putra yakni Beni Prakosa yang diharapkan oleh bapak ibunya menjadi Jendral kelak di kemudian hari dan adiknya si Tolo Tolo.

Buku ini menceritakan tentang kehidupan Umar Kayam yang diwakilkan dengan karakter Pak Ageng dalam berkehidupan sehari-harinya mengajar di UGM pulang pergi ke kantor dengan menggunakan mobil dinas butut yang diberinya julukan Garuda Yeksa [kereta kencana Keraton Yogya].

Dalam dialog-dialog keseharian yang sering menampilkan filsafat-filsafat Jawa dan sering pula dilontarkan argumen-argumen dari mister Rigen sebagai wakil dari wong cilik yang kadang membuat panas telinga tapi sebenarnya mengungkap fakta dan realita kejadian yang ada di masyarakat. Ditampilkan pula bagaimana kebiasaan pak Ageng berinteraksi dengan mas Joyoboyo yang merupakan penjual panggang ayam langganan pak Ageng dan keluarga. Pak Joyoboyo ini juga sering melontarkan celetukan-celetukan yang waktu itu sering disebut kekiri-kirian, yang sebenarnya merupakan keluhan rakyat kecil terhadap kondisi kehidupan yang dari hari ke hari semakin berat menghimpit rakyat.

Pak Ageng juga berinteraksi dengan 2 sahabatnya meskipun yang satu masih terhitung saudara jauh yaitu Prof. Prasodjo Legowo yang meskipun menjadi dosen peneliti yang sering berpergian ke luar negeri untuk mengikuti dan mengisi berbagai seminar dalam kehidupan sehari-harinya hidup tetap sederhana dengan memakai kendaraan sepeda motor Honda tahun 70 yang hanya mampu berjalan pelan.
Satu lagi teman pak Ageng yang kehidupannya sangat berlawanan dengan gaya hidup pak Ageng dan Prof. Prasodjo yang bernama Prof. Lemahamba yang memiliki bederet titel kesarjanaan lainnya di depan dan di belakang namanya. Prof. Lemahamba cenderung hidup dalam kemewahan karena memiliki kekayaan di mana-mana dengan proyek-proyek yang bernilai ratusan juta dan selalu berganti-ganti mobil BMW-nya.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan Umar Kayam yang dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta sejak sekitar tahin 1987. Umar kayam juga banyak melahirkan tulisan-tulisan lainnya yang berbobot.

Dari buku ini dapat diambil makna mendalam yang terkandung di dalamnya, karena betapa hidup dalam keselarasan dan keseimbangan adalah penting bagi manusia dan falsafah-falsafah kehidupan yang ada juga dapat dijadikan pedoman dalam menjalani hidup ini.

Hidup akan menjadi lebih indah kalau kita lebih bermakna bagi semua...

2 komentar:

playgroup mengatakan...

baca buku ini mmg bs bikin ketawa ngakak. penggeng eyem, penggeng eyem..gitu yg plg ta'inget. kok buku fav kamu bisa sama kaya aku ya....

maschocho mengatakan...

Tulisan Almarhum pakde Umar memang aku suka...