Saksi Sukses Perusahaan Rokok Sampoerna
Berdiri di atas tanah seluas lebih dari 1 hektare, bangunan yang sudah ada sejak tahun 1858 yang terletak di daerah Kebalen awalnya merupakan rumah yatim piatu pada jaman penjajahan Belanda. Pada bangunan inilah yang merupakan cikal bakal berdirinya sebuah perusahaan rokok besar yang ternama SAMPOERNA yang sampai saat ini sebagian proses produksi rokok SAMPOERNA juga masih dilakukan di sini disamping dua lokal pabrik lainnya yang terletak di daerah Rungkut-Surabaya dan di Kabupaten Pasuruan.
Perusahaan rokok SAMPOERNA didirikan oleh pendiri pertama yang bernama Liem Seeng Tee yang sejak usia 11 tahun meninggalkan keluarga angkatnya di Bojonegoro. Kemudian anak yatim piatu ini bekerja dengan berjualan di atas kereta api. Menjalani hidup dengan menggelandang ia menjajakan makanan yang dibawa dengan sarungnya kepada penumpang kereta api kelas bawah dalam perjalanan antara Jakarta dan Surabaya.
Liem Seeng Tee muda melewatkan waktu 18 bulan melompat keluar masuk ke dalam gerbong-gerbong kereta api yang sedang berjalan di malam buta, dengan seluruh barang dagangan miliknya yang terikat pada punggungnya dalam lapik kanvas untuk tidur. Ketika tabungannya telah cukup untuk membeli sepeda bekas, ia memulai usaha baru dengan menjajakan arang di jalanan kota Surabaya.
Setelah lelah berjualan arang, kemudian Liem Seeng Tee mendirikan warung untuk berjualan beberapa hasil bumi seperti kacang tanah, kacang hijau, berbagai buah-buahan dan beberapa barang dagangan lainnya.
Melalui proses coba-coba kemudian Liem Seeng Tee mencoba membuat rokok sekitar tahun 1913 yang kemudian berkembang menjadi perusahaan rokok pada tahun 1930.
Untuk mengabadikan perjalan hidup dalam menjalankan usahanya, maka perusahaan rokok SAMPOERNA membangun sebuah museum yang didalamnya terdapat barang-barang berharga milik keluarga besar pendiri perusahaan rokok SAMPOERNA, puluhan lukisan dan foto bersejarah dan barang-barang lain yang berkaitan langsung dengan kehidupan usaha perusahaan ini.
Di dekat museum juga berdiri café yang menyediakan makanan dan minuman serta pernak-pernik yang berkaitan langsung dengan rokok SAMPOERNA.
Museum ini dibuka untuk umum dan buka sampai dengan pukul 22.00 WIB dan disediakan pula pemandu untuk menyertai kunjungan kita dan menerangkan segala sesuatunya dengan baik dan ramah.
Senin, Agustus 11, 2008
Selasa, Juli 29, 2008
Golput juga sebuah pilihan
Pemilihan Umum Kepala daerah Jawa Timur yang memilih bakal calon Gubernur Jawa Timur telah dilaksanakan pada tanggal 23 Juli 2008 dengan hasil sementara menurut penghitungan cepat [quick count] tidak ada pasangan calon yang mencapai perolehan suara 30% yang mengindikasikan akan diadakannya putaran kedua Pilgub Jatim dengan menunggu pengumuman resmi KPUD jatim pada awal bulan Agustus 2008.
Hasil Pilkada yang patut memperoleh perhatian ketika dari hasil penghitungan sementara diperoleh jumlah masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya sangat banyak ditemukan dalam Pilkada kali ini. Hal ini antara lain banyaknya pemilih yang belum menerima kartu pemilih akibat terlambatnya kinerja KPUD dan beberapa alasan lain yang membuat mereka tidak menggunakan hak pilihnya.
Ternyata, fenomena golput kembali muncul dalam Pilkada kali ini. Ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah selama ini merupakan salah satu penyebab timbulnya golput pada masyarakat pemilih.
Janji-janji pada kampanye-kampanye terdahulu banyak yang tidak ter-realisasi dan hanya janji tanpa adanya bukti hingga saat ini. Jumlah masyarakat yang golput pada Pilkada 2008 paling banyak terdapat di Kabupaten Sidoarjo terutama di wilayah Kecamatan Porong dan Kecamatan Jabon yang merupakan daerah yang terkena bencana luapan lumpur Lapindo. Golput merupakan bentuk kekecewaan mereka karena masalah mereka tidak kunjung terselesaikan.
Sebenarnya untuk mengurangi jumlah masyarakat Golput pada Pemilu maupun Pilkada sangat mudah. Yaitu dengan menunjukkan kinerja yang sungguh-sungguh membela kepentingan rakyat. Menciptakan kehidupan birokrasi yang bersih dan bersahaja dengan suasana politik yang dinamis tanpa intrik curang dan korupsi yang menjengkelkan.
Menumbuhkan kepercayaan masyarakat yang sudah sekian lama menjadi korban kepentingan politik adalah tugas kita bersama. Bagaimana meyakinkan mereka? Semoga hukum dapat ditegakkan...
Hasil Pilkada yang patut memperoleh perhatian ketika dari hasil penghitungan sementara diperoleh jumlah masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya sangat banyak ditemukan dalam Pilkada kali ini. Hal ini antara lain banyaknya pemilih yang belum menerima kartu pemilih akibat terlambatnya kinerja KPUD dan beberapa alasan lain yang membuat mereka tidak menggunakan hak pilihnya.
Ternyata, fenomena golput kembali muncul dalam Pilkada kali ini. Ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah selama ini merupakan salah satu penyebab timbulnya golput pada masyarakat pemilih.
Janji-janji pada kampanye-kampanye terdahulu banyak yang tidak ter-realisasi dan hanya janji tanpa adanya bukti hingga saat ini. Jumlah masyarakat yang golput pada Pilkada 2008 paling banyak terdapat di Kabupaten Sidoarjo terutama di wilayah Kecamatan Porong dan Kecamatan Jabon yang merupakan daerah yang terkena bencana luapan lumpur Lapindo. Golput merupakan bentuk kekecewaan mereka karena masalah mereka tidak kunjung terselesaikan.
Sebenarnya untuk mengurangi jumlah masyarakat Golput pada Pemilu maupun Pilkada sangat mudah. Yaitu dengan menunjukkan kinerja yang sungguh-sungguh membela kepentingan rakyat. Menciptakan kehidupan birokrasi yang bersih dan bersahaja dengan suasana politik yang dinamis tanpa intrik curang dan korupsi yang menjengkelkan.
Menumbuhkan kepercayaan masyarakat yang sudah sekian lama menjadi korban kepentingan politik adalah tugas kita bersama. Bagaimana meyakinkan mereka? Semoga hukum dapat ditegakkan...
Jumat, Juni 20, 2008
Pekalongan [memang] Kota Batik
Kota Batik di Pekalongan
Bukan Jogja bukan Solo
[SBY (Sosial Betawi Yoi), by SLANK]
Potongan lirik lagu dari SLANK di atas ternyata telah menjawab pertanyaan saya tentang Pekalongan yang dikenal dengan sebutan Kota Batik. Sebagai kota yang dikenal memproduksi banyak batik, maka produk batik-nya tersebar ke seluruh daerah bahkan sampai Jogja dan Solo.
Terbukti ketika saya berada di Jogja awal minggu ini, saya menemukan batik-batik Pekalongan banyak dijual di Pasar Bringharjo. Setiap saya melihat label merek ternyata kebanyakan batik yang dijual adalah produksi Pekalongan.
Hal ini juga terjadi ketika saya berada di pasar Klewer Solo yang juga banyak pedagang batik berjualan di sana. Ternyata saya juga menemukan banyak batik yang produksi Pekalongan dijual di pasar Klewer. Meskipun di Solo ada kampung Laweyan yang terkenal dengan kampung batik.
Meskipun secara budaya dan historis Jogja dan Solo juga memiliki kekayaan luhur batiknya, akan tetapi ternyata batik Pekalongan lebih 'menguasai' pasar. Hal ini menggambarkan bahwa industri batik Pekalongan masih eksis meskipun ada indikasi penurunan jumlah produsen batik di sana.
Menurut Sutrisno Bachir [Ketua Umum PAN] dalam sebuah kesempatan menyatakan, banyak produsen batik Pekalongan yang terpaksa tutup bukan karena mereka kekurangan modal atau kesulitan bahan produksi. Mereka terpaksa berhenti berproduksi hanya karena sudah tidak ada lagi yang mau meneruskan usaha batik tersebut.
Banyak pengusaha batik Pekalongan yang menyekolahkan anak-anak mereka ke luar kota bahkan sampai ke luar negeri. Ternyata setelah mereka selesai sekolah banyak dari mereka yang tidak mau meneruskan usaha orangtuanya dan memilih bekerja di bidang lain di luar daerah.
Semoga batik bisa tetap menjadi identitas bangsa Indonesia. Sebuah warisan luhur budaya yang harus dijaga dan dipelihara.
Bukan Jogja bukan Solo
[SBY (Sosial Betawi Yoi), by SLANK]
Potongan lirik lagu dari SLANK di atas ternyata telah menjawab pertanyaan saya tentang Pekalongan yang dikenal dengan sebutan Kota Batik. Sebagai kota yang dikenal memproduksi banyak batik, maka produk batik-nya tersebar ke seluruh daerah bahkan sampai Jogja dan Solo.
Terbukti ketika saya berada di Jogja awal minggu ini, saya menemukan batik-batik Pekalongan banyak dijual di Pasar Bringharjo. Setiap saya melihat label merek ternyata kebanyakan batik yang dijual adalah produksi Pekalongan.
Hal ini juga terjadi ketika saya berada di pasar Klewer Solo yang juga banyak pedagang batik berjualan di sana. Ternyata saya juga menemukan banyak batik yang produksi Pekalongan dijual di pasar Klewer. Meskipun di Solo ada kampung Laweyan yang terkenal dengan kampung batik.
Meskipun secara budaya dan historis Jogja dan Solo juga memiliki kekayaan luhur batiknya, akan tetapi ternyata batik Pekalongan lebih 'menguasai' pasar. Hal ini menggambarkan bahwa industri batik Pekalongan masih eksis meskipun ada indikasi penurunan jumlah produsen batik di sana.
Menurut Sutrisno Bachir [Ketua Umum PAN] dalam sebuah kesempatan menyatakan, banyak produsen batik Pekalongan yang terpaksa tutup bukan karena mereka kekurangan modal atau kesulitan bahan produksi. Mereka terpaksa berhenti berproduksi hanya karena sudah tidak ada lagi yang mau meneruskan usaha batik tersebut.
Banyak pengusaha batik Pekalongan yang menyekolahkan anak-anak mereka ke luar kota bahkan sampai ke luar negeri. Ternyata setelah mereka selesai sekolah banyak dari mereka yang tidak mau meneruskan usaha orangtuanya dan memilih bekerja di bidang lain di luar daerah.
Semoga batik bisa tetap menjadi identitas bangsa Indonesia. Sebuah warisan luhur budaya yang harus dijaga dan dipelihara.
Kamis, Juni 19, 2008
Seminar di Jogja
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku
Bersahabat
Penuh selaksa makna
[Yogyakarta, by KLA Project]
Sepotong bait lagu milik KLA Project sangat pantas untuk bisa melukiskan Jogja. Lima tahun yang lalu dan sekarang tidak jauh berbeda. Seorang penarik becak di Jogja sampai berkata pada saya, "Jogja dulu dan sekarang ya sama saja mas, cuma sekarang lebih banyak mobil. Macet...".
Suasana dan keramahan yang saya dapati ketika berada di Jogja memang tidak berubah. Tugas dari kantor mengharuskan saya datang pada seminar di sebuah PTN di Jogja. Sebuah kesempatan yang sayang kalau disia-siakan.
Berbekal e-mail balasan dari mas Butet [terima kasih mas Butet atas info Malioboro dan sekitarnya], saya kembali 'memberanikan diri' datang ke Jogja.
Dengan KA Sancaka Minggu pagi dari Surabaya, jam 12.40 saya sudah sampai di Stasiun Tugu dan langsung menuju penginapan di Jl. Dagen di seputaran Malioboro yang terkenal banyak hotel budget-nya.
Setelah check-in dan makan siang di depan penginapan saya langsung menuju Pasar Bringharjo. Sesuai dengan petunjuk mas Butet, kalau di Pasar Bringharjo yang ada adalah Gado-gado dan Ratengan di lantai 2.
Mungkin karena sudah terlalu sore, karena sebelum saya ke lantai 2 saya sibuk memilih-milih dan membeli beberapa potong batik buat oleh-oleh saya nggak berhasil menemukan Gado-gado dan Ratengan. Saya lupa kalau mas Butet juga merekomendasikan Soto Pithes di lantai 1 Pasar Bringharjo dan saya baru ingat waktu buka catatan sepulang dari seminar hari Senin.
Di depan toko Makmur Jaya saya juga tidak menemukan ibu penjual ayam panggang Klaten. Yang ada di sana cuma penjual Es Dawet dan Es Campur yang dikerubuti banyak orang.
Malam harinya saya berjalan ke arah Pasar Bringharjo dan menemukan penjual Onde-onde seperti yang dibilang mas Butet. Per bijinya dijual seharga Rp.1.250,- dan untuk rasanya hampir-hampir mirip dengan Onde-onde 'BO LIEM' Mojokerto.
Penasaran dengan Brongkos Koyor KOTIK saya iseng-iseng tanya dengan mbak yang jual voucher isi ulang pulsa arah daerah Gandekan dan ternyata mbak-nya tau kalo saya lagi cari Brongkos KOTIK. Sayangnya, menurut mbak-nya KOTIK nggak jualan kalo hari Minggu. Wah...gak bisa ngicipi telur kecapnya dong.
Satu lagi rekomendasi mas Butet yang belum bisa saya penuhi yaitu Gudeg Bu Joyo yang bukanya sekitar jam 11. Karena saya harus seminar besok paginya saya nggak berani 'klayapan' sampe jam 11 malam. Takut kesiangan...
Sekali lagi terima kasih mas Butet untuk 'pengarahan'-nya lain kali aku akan kembali ke Jogja. Pinginnya nerusin S-2 di Jogja sih...
PS: di Jl. Dagen ada toko yang jualan/produksi bakpia yang rasanya nyuuuusss...
Beda dengan bakpia lain dan kemasan kotaknya lebih OK karena gak pake angka-angka.
Tiap sudut menyapaku
Bersahabat
Penuh selaksa makna
[Yogyakarta, by KLA Project]
Sepotong bait lagu milik KLA Project sangat pantas untuk bisa melukiskan Jogja. Lima tahun yang lalu dan sekarang tidak jauh berbeda. Seorang penarik becak di Jogja sampai berkata pada saya, "Jogja dulu dan sekarang ya sama saja mas, cuma sekarang lebih banyak mobil. Macet...".
Suasana dan keramahan yang saya dapati ketika berada di Jogja memang tidak berubah. Tugas dari kantor mengharuskan saya datang pada seminar di sebuah PTN di Jogja. Sebuah kesempatan yang sayang kalau disia-siakan.
Berbekal e-mail balasan dari mas Butet [terima kasih mas Butet atas info Malioboro dan sekitarnya], saya kembali 'memberanikan diri' datang ke Jogja.
Dengan KA Sancaka Minggu pagi dari Surabaya, jam 12.40 saya sudah sampai di Stasiun Tugu dan langsung menuju penginapan di Jl. Dagen di seputaran Malioboro yang terkenal banyak hotel budget-nya.
Setelah check-in dan makan siang di depan penginapan saya langsung menuju Pasar Bringharjo. Sesuai dengan petunjuk mas Butet, kalau di Pasar Bringharjo yang ada adalah Gado-gado dan Ratengan di lantai 2.
Mungkin karena sudah terlalu sore, karena sebelum saya ke lantai 2 saya sibuk memilih-milih dan membeli beberapa potong batik buat oleh-oleh saya nggak berhasil menemukan Gado-gado dan Ratengan. Saya lupa kalau mas Butet juga merekomendasikan Soto Pithes di lantai 1 Pasar Bringharjo dan saya baru ingat waktu buka catatan sepulang dari seminar hari Senin.
Di depan toko Makmur Jaya saya juga tidak menemukan ibu penjual ayam panggang Klaten. Yang ada di sana cuma penjual Es Dawet dan Es Campur yang dikerubuti banyak orang.
Malam harinya saya berjalan ke arah Pasar Bringharjo dan menemukan penjual Onde-onde seperti yang dibilang mas Butet. Per bijinya dijual seharga Rp.1.250,- dan untuk rasanya hampir-hampir mirip dengan Onde-onde 'BO LIEM' Mojokerto.
Penasaran dengan Brongkos Koyor KOTIK saya iseng-iseng tanya dengan mbak yang jual voucher isi ulang pulsa arah daerah Gandekan dan ternyata mbak-nya tau kalo saya lagi cari Brongkos KOTIK. Sayangnya, menurut mbak-nya KOTIK nggak jualan kalo hari Minggu. Wah...gak bisa ngicipi telur kecapnya dong.
Satu lagi rekomendasi mas Butet yang belum bisa saya penuhi yaitu Gudeg Bu Joyo yang bukanya sekitar jam 11. Karena saya harus seminar besok paginya saya nggak berani 'klayapan' sampe jam 11 malam. Takut kesiangan...
Sekali lagi terima kasih mas Butet untuk 'pengarahan'-nya lain kali aku akan kembali ke Jogja. Pinginnya nerusin S-2 di Jogja sih...
PS: di Jl. Dagen ada toko yang jualan/produksi bakpia yang rasanya nyuuuusss...
Beda dengan bakpia lain dan kemasan kotaknya lebih OK karena gak pake angka-angka.
Jumat, Juni 06, 2008
Kecap dan Soto Jombang
Sekitar tahun 2001 di Sidoarjo mulai muncul pedagang soto asal Jombang dengan ciri khas di bagian depan tendanya bertuliskan 'SOTO DAGING Cabang JOMBANG' dan penjualnya selalu membanting botol kecap asin-nya ketika selesai menuangkannya ke dalam mangkuk soto yang sudah siap saji.
Mungkin dibeberapa tempat soto seperti ini dikenal dengan nama Soto Gebrak yang penjualnya tidak hanya dari Jombang tapi banyak juga dari daerah Lamongan.
Awalnya pedagang Soto Jombang ini berjualan di depan sebuah toko yang sudah tutup karena bangkrut dan kemudian harus pindah karena dia harus berurusan dengan Satpol PP dan menempati lahan di sebelah kantor KODIM 0816 Sidoarjo.
Beberapa lama berjualan di lahan itu, ternyata dia harus pindah lagi karena lahan tersebut ternyata sudah dijual dan akan dibangun ruko. Akhirnya dia menyewa halaman sebuah rumah di Jl. Dr. Tjipto Mangunkusumo sampai sekarang dan banyak dikunjungi oleh penikmat soto.
Soto Jombang ini juga memiliki 2 cabang yang masing-masing masih memiliki hubungan keluarga yakni di depan Perumahan Angkatan Laut Gedangan dan di Jalan Raya Buduran.
Soto dengan gagrak Jombang adalah soto daging berkuah kuning yang isinya tidak hanya daging, tetapi ada juga berbagai jenis jeroan seperti usus, limpa, babat dan lainnya. Selain itu mereka juga menyediakan berbagai macam jeroan yang sudah digoreng jika ada yang ingin menambahkannya kedalam mangkok sotonya.
Yang menarik, Soto Jombang ini selalu menyediakan dan memakai kecap Cap 2 Ikan Layur produksi Jombang meskipun mereka berjualan di luar daerah Jombang.
Mungkin dibeberapa tempat soto seperti ini dikenal dengan nama Soto Gebrak yang penjualnya tidak hanya dari Jombang tapi banyak juga dari daerah Lamongan.
Awalnya pedagang Soto Jombang ini berjualan di depan sebuah toko yang sudah tutup karena bangkrut dan kemudian harus pindah karena dia harus berurusan dengan Satpol PP dan menempati lahan di sebelah kantor KODIM 0816 Sidoarjo.
Beberapa lama berjualan di lahan itu, ternyata dia harus pindah lagi karena lahan tersebut ternyata sudah dijual dan akan dibangun ruko. Akhirnya dia menyewa halaman sebuah rumah di Jl. Dr. Tjipto Mangunkusumo sampai sekarang dan banyak dikunjungi oleh penikmat soto.
Soto Jombang ini juga memiliki 2 cabang yang masing-masing masih memiliki hubungan keluarga yakni di depan Perumahan Angkatan Laut Gedangan dan di Jalan Raya Buduran.
Soto dengan gagrak Jombang adalah soto daging berkuah kuning yang isinya tidak hanya daging, tetapi ada juga berbagai jenis jeroan seperti usus, limpa, babat dan lainnya. Selain itu mereka juga menyediakan berbagai macam jeroan yang sudah digoreng jika ada yang ingin menambahkannya kedalam mangkok sotonya.
Yang menarik, Soto Jombang ini selalu menyediakan dan memakai kecap Cap 2 Ikan Layur produksi Jombang meskipun mereka berjualan di luar daerah Jombang.
Langganan:
Postingan (Atom)
