Senin, Desember 01, 2008

Penampilan para penipu dan badut

oleh : Rusdi Mathari


TAHUN lalu di sebuah kota Jawa Timur, sebuah poster yang ditempel pada sebidang papan secara mencolok diletakkan di tepi jalan. Gambarnya seorang petinggi setempat dan di bawahnya tertulis ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Ini iklan yang lazim sebetulnya, andai ditujukan hanya untuk itu: mengucapkan selamat hari raya. Namun siapa yang mengenal sosok dan wajah si pejabat dan apa pentingnya dia mencetak besar-besar gambar wajahnya pada sebuah poster? Kecuali para bawahannya yang menjadi anak buahnya di kota itu dan sebagian pejabat pemerintahnya, warga kota nyaris tidak pernah mengenalnya.

Ini yang kemudian terbukti: Si pejabat daerah itu rupanya berkeinginan mencalonkan diri sebagai wali kota dalam pemilihan kepada daerah di kota itu. Poster tadi karena itu, kemudian tak harus dibaca sebagai sebuah keinginan untuk benar-benar mengucapkan selamat hari raya, melainkan hanya sebuah pamrih. Dia bermaksud untuk dikenal. Untuk populer.Lalu menjelang Pemilu 2009 semakin banyak orang dan banyak kelompok yang kemudian berperilaku seperti pejabat di sebuah kota di Jawa Timur itu. Mereka berlomba-lomba memasang tampang, membayar ratusan juta bahkan ratusan miliar rupiah kepada biro iklan dan lembaga survei, untuk memoles laku agar tampak berpihak kepada rakyat. Senyum kemudian menjadi peraturan dan kata-kata menjadi barang dagangan. "Hidup adalah perbuatan," "Bangkitlah bangsaku," atau kata-kata semacam itu, dan sebagainya, kemudian menjadi terdengar seolah mengemis. Meminta-minta untuk diperhatikan.

Mulai pekan depan, orang-orang dengan kata-kata heroik semacam itu niscaya akan hampir setiap hari muncul di televisi, di media elektronik dan cetak dan sebagainya, seolah teror yang menyelinap ke ruang keluarga. Orang-orang yang sebetulnya tidak pernah dikenal sebelumnya karena memang bukan siapa-siapa— yang berseru tentang kebajikan dan menjanjikan sebuah harapan. Sebagian besar dari mereka adalah wajah lama yang sejak zaman Soeharto berkuasa sudah kenyang dengan fasilitas. Mereka menebar senyum, memeluk anak-anak, merangkul kaum renta, mengelus para duafa sembari menjanjikan perubahan seolah merekalah perubahan itu sendiri.

Tak semua orang tentu paham dengan maksud penampilan para "tokoh" itu. Sebagian yang lain hanya tahu, penampilan orang-orang itu di depan publik telah menghabiskan dana ratusan juta rupiah, atau ratusan miliar rupiah. Biro iklan, lembaga-lembaga survei, dan tentu saja media, menangguk untung tak sedikit karena reklame para "tokoh" itu dan kelak juga ketika musim kampanye pemilu tiba. Namun untuk apa dan untuk siapa mereka tampil di layar televisi dan media, selain untuk kepentingan diri mereka sendiri dan juga kelompoknya?

Tak Ada Makan Siang Gratis
Mungkin adalah benar dalil yang akan disampaikan oleh mereka, bahwa penampilan mereka semata hanya untuk rakyat, demi kemaslahatan umat, agar rakyat sadar akan hak-haknya, karena suara nurani dan sebagainya. Namun semua alibi itu, betapa pun bagus dan dibungkus dengan jujur akan tetapi sangatlah mustahil untuk tidak menghubungkannya dengan tujuan politik populis dan kepentingan mereka. Bukankah memang tak ada makan siang yang gratis? Karena kalaupun benar tujuannya untuk kepentingan orang banyak dan demi nurani, lalu tidakkah akan lebih berguna ongkos pembuatan iklan yang ratusan miliar itu diberikan kepada publik— tak perlu diberikan percuma melainkan cukup dalam bentuk pinjaman— yang antara lain bisa digunakan untuk usaha?Maka pada dasarnya, orang-orang itu sebetulnya adalah para pesohor yang berharap diri mereka dikenal sebagai "tokoh" yang berpihak kepada rakyat, sebagai "penggerak hati nurani," dan "pengayom orang papa." Semakin sering tampil di media, mereka berharap bisa kembali modal terutama di bilik suara, rakyat kelak akan mengingat wajah mereka. Selembar wajah yang telah pernah memberikan senyum dan memeluk kaum tak berdaya di televisi, di media cetak dan di baliho-baliho— meskipun wajah dan perilaku mereka sebetulnya lebih mirip badut, mungkin juga penipu.

Dulu Soeharto dengan jitu menerjemahkan hal itu dan selalu tampil dengan senyum yang teduh tapi juga sembari diam-diam pemerintahannya mengepalkan tangan menindas dan meludahi rakyat. Dan kini di era reformasi, jejak Soeharto terus diikuti dengan bingkai demokrasi. Di iklan yang menghabiskan ongkos ratusan miliar itu dengan senyum dan laku yang dibuat seolah sebagai pengayom, mereka para "tokoh" itu sebetulnya hanya hendak menelikung kepentingan, agar rakyat tidak bisa membedakan antara seorang badut dengan seorang penipu.

Celakanya dalam setahun ke depan hingga habis masa Pemilu 2009, penampilan para penipu dan badut itu akan semakin kerap menyinggahi ruang publik, melalui siaran televisi dan radio, dicetak di koran, majalah, spanduk dan baliho lalu menyelinap seolah teror ke ruang keluarga, di banyak rumah warga Indonesia.

Senin, Agustus 11, 2008

HOUSE OF SAMPOERNA

Saksi Sukses Perusahaan Rokok Sampoerna


Berdiri di atas tanah seluas lebih dari 1 hektare, bangunan yang sudah ada sejak tahun 1858 yang terletak di daerah Kebalen awalnya merupakan rumah yatim piatu pada jaman penjajahan Belanda. Pada bangunan inilah yang merupakan cikal bakal berdirinya sebuah perusahaan rokok besar yang ternama SAMPOERNA yang sampai saat ini sebagian proses produksi rokok SAMPOERNA juga masih dilakukan di sini disamping dua lokal pabrik lainnya yang terletak di daerah Rungkut-Surabaya dan di Kabupaten Pasuruan.

Perusahaan rokok SAMPOERNA didirikan oleh pendiri pertama yang bernama Liem Seeng Tee yang sejak usia 11 tahun meninggalkan keluarga angkatnya di Bojonegoro. Kemudian anak yatim piatu ini bekerja dengan berjualan di atas kereta api. Menjalani hidup dengan menggelandang ia menjajakan makanan yang dibawa dengan sarungnya kepada penumpang kereta api kelas bawah dalam perjalanan antara Jakarta dan Surabaya.
Liem Seeng Tee muda melewatkan waktu 18 bulan melompat keluar masuk ke dalam gerbong-gerbong kereta api yang sedang berjalan di malam buta, dengan seluruh barang dagangan miliknya yang terikat pada punggungnya dalam lapik kanvas untuk tidur. Ketika tabungannya telah cukup untuk membeli sepeda bekas, ia memulai usaha baru dengan menjajakan arang di jalanan kota Surabaya.
Setelah lelah berjualan arang, kemudian Liem Seeng Tee mendirikan warung untuk berjualan beberapa hasil bumi seperti kacang tanah, kacang hijau, berbagai buah-buahan dan beberapa barang dagangan lainnya.

Melalui proses coba-coba kemudian Liem Seeng Tee mencoba membuat rokok sekitar tahun 1913 yang kemudian berkembang menjadi perusahaan rokok pada tahun 1930.

Untuk mengabadikan perjalan hidup dalam menjalankan usahanya, maka perusahaan rokok SAMPOERNA membangun sebuah museum yang didalamnya terdapat barang-barang berharga milik keluarga besar pendiri perusahaan rokok SAMPOERNA, puluhan lukisan dan foto bersejarah dan barang-barang lain yang berkaitan langsung dengan kehidupan usaha perusahaan ini.

Di dekat museum juga berdiri café yang menyediakan makanan dan minuman serta pernak-pernik yang berkaitan langsung dengan rokok SAMPOERNA.
Museum ini dibuka untuk umum dan buka sampai dengan pukul 22.00 WIB dan disediakan pula pemandu untuk menyertai kunjungan kita dan menerangkan segala sesuatunya dengan baik dan ramah.

Selasa, Juli 29, 2008

Golput juga sebuah pilihan

Pemilihan Umum Kepala daerah Jawa Timur yang memilih bakal calon Gubernur Jawa Timur telah dilaksanakan pada tanggal 23 Juli 2008 dengan hasil sementara menurut penghitungan cepat [quick count] tidak ada pasangan calon yang mencapai perolehan suara 30% yang mengindikasikan akan diadakannya putaran kedua Pilgub Jatim dengan menunggu pengumuman resmi KPUD jatim pada awal bulan Agustus 2008.

Hasil Pilkada yang patut memperoleh perhatian ketika dari hasil penghitungan sementara diperoleh jumlah masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya sangat banyak ditemukan dalam Pilkada kali ini. Hal ini antara lain banyaknya pemilih yang belum menerima kartu pemilih akibat terlambatnya kinerja KPUD dan beberapa alasan lain yang membuat mereka tidak menggunakan hak pilihnya.

Ternyata, fenomena golput kembali muncul dalam Pilkada kali ini. Ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah selama ini merupakan salah satu penyebab timbulnya golput pada masyarakat pemilih.
Janji-janji pada kampanye-kampanye terdahulu banyak yang tidak ter-realisasi dan hanya janji tanpa adanya bukti hingga saat ini. Jumlah masyarakat yang golput pada Pilkada 2008 paling banyak terdapat di Kabupaten Sidoarjo terutama di wilayah Kecamatan Porong dan Kecamatan Jabon yang merupakan daerah yang terkena bencana luapan lumpur Lapindo. Golput merupakan bentuk kekecewaan mereka karena masalah mereka tidak kunjung terselesaikan.

Sebenarnya untuk mengurangi jumlah masyarakat Golput pada Pemilu maupun Pilkada sangat mudah. Yaitu dengan menunjukkan kinerja yang sungguh-sungguh membela kepentingan rakyat. Menciptakan kehidupan birokrasi yang bersih dan bersahaja dengan suasana politik yang dinamis tanpa intrik curang dan korupsi yang menjengkelkan.

Menumbuhkan kepercayaan masyarakat yang sudah sekian lama menjadi korban kepentingan politik adalah tugas kita bersama. Bagaimana meyakinkan mereka? Semoga hukum dapat ditegakkan...

Jumat, Juni 20, 2008

Pekalongan [memang] Kota Batik

Kota Batik di Pekalongan
Bukan Jogja bukan Solo

[SBY (Sosial Betawi Yoi), by SLANK]


Potongan lirik lagu dari SLANK di atas ternyata telah menjawab pertanyaan saya tentang Pekalongan yang dikenal dengan sebutan Kota Batik. Sebagai kota yang dikenal memproduksi banyak batik, maka produk batik-nya tersebar ke seluruh daerah bahkan sampai Jogja dan Solo.

Terbukti ketika saya berada di Jogja awal minggu ini, saya menemukan batik-batik Pekalongan banyak dijual di Pasar Bringharjo. Setiap saya melihat label merek ternyata kebanyakan batik yang dijual adalah produksi Pekalongan.

Hal ini juga terjadi ketika saya berada di pasar Klewer Solo yang juga banyak pedagang batik berjualan di sana. Ternyata saya juga menemukan banyak batik yang produksi Pekalongan dijual di pasar Klewer. Meskipun di Solo ada kampung Laweyan yang terkenal dengan kampung batik.

Meskipun secara budaya dan historis Jogja dan Solo juga memiliki kekayaan luhur batiknya, akan tetapi ternyata batik Pekalongan lebih 'menguasai' pasar. Hal ini menggambarkan bahwa industri batik Pekalongan masih eksis meskipun ada indikasi penurunan jumlah produsen batik di sana.

Menurut Sutrisno Bachir [Ketua Umum PAN] dalam sebuah kesempatan menyatakan, banyak produsen batik Pekalongan yang terpaksa tutup bukan karena mereka kekurangan modal atau kesulitan bahan produksi. Mereka terpaksa berhenti berproduksi hanya karena sudah tidak ada lagi yang mau meneruskan usaha batik tersebut.

Banyak pengusaha batik Pekalongan yang menyekolahkan anak-anak mereka ke luar kota bahkan sampai ke luar negeri. Ternyata setelah mereka selesai sekolah banyak dari mereka yang tidak mau meneruskan usaha orangtuanya dan memilih bekerja di bidang lain di luar daerah.

Semoga batik bisa tetap menjadi identitas bangsa Indonesia. Sebuah warisan luhur budaya yang harus dijaga dan dipelihara.

Kamis, Juni 19, 2008

Seminar di Jogja

Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku
Bersahabat
Penuh selaksa makna

[Yogyakarta, by KLA Project]


Sepotong bait lagu milik KLA Project sangat pantas untuk bisa melukiskan Jogja. Lima tahun yang lalu dan sekarang tidak jauh berbeda. Seorang penarik becak di Jogja sampai berkata pada saya, "Jogja dulu dan sekarang ya sama saja mas, cuma sekarang lebih banyak mobil. Macet...".

Suasana dan keramahan yang saya dapati ketika berada di Jogja memang tidak berubah. Tugas dari kantor mengharuskan saya datang pada seminar di sebuah PTN di Jogja. Sebuah kesempatan yang sayang kalau disia-siakan.

Berbekal e-mail balasan dari mas Butet [terima kasih mas Butet atas info Malioboro dan sekitarnya], saya kembali 'memberanikan diri' datang ke Jogja.

Dengan KA Sancaka Minggu pagi dari Surabaya, jam 12.40 saya sudah sampai di Stasiun Tugu dan langsung menuju penginapan di Jl. Dagen di seputaran Malioboro yang terkenal banyak hotel budget-nya.

Setelah check-in dan makan siang di depan penginapan saya langsung menuju Pasar Bringharjo. Sesuai dengan petunjuk mas Butet, kalau di Pasar Bringharjo yang ada adalah Gado-gado dan Ratengan di lantai 2.

Mungkin karena sudah terlalu sore, karena sebelum saya ke lantai 2 saya sibuk memilih-milih dan membeli beberapa potong batik buat oleh-oleh saya nggak berhasil menemukan Gado-gado dan Ratengan. Saya lupa kalau mas Butet juga merekomendasikan Soto Pithes di lantai 1 Pasar Bringharjo dan saya baru ingat waktu buka catatan sepulang dari seminar hari Senin.

Di depan toko Makmur Jaya saya juga tidak menemukan ibu penjual ayam panggang Klaten. Yang ada di sana cuma penjual Es Dawet dan Es Campur yang dikerubuti banyak orang.

Malam harinya saya berjalan ke arah Pasar Bringharjo dan menemukan penjual Onde-onde seperti yang dibilang mas Butet. Per bijinya dijual seharga Rp.1.250,- dan untuk rasanya hampir-hampir mirip dengan Onde-onde 'BO LIEM' Mojokerto.

Penasaran dengan Brongkos Koyor KOTIK saya iseng-iseng tanya dengan mbak yang jual voucher isi ulang pulsa arah daerah Gandekan dan ternyata mbak-nya tau kalo saya lagi cari Brongkos KOTIK. Sayangnya, menurut mbak-nya KOTIK nggak jualan kalo hari Minggu. Wah...gak bisa ngicipi telur kecapnya dong.

Satu lagi rekomendasi mas Butet yang belum bisa saya penuhi yaitu Gudeg Bu Joyo yang bukanya sekitar jam 11. Karena saya harus seminar besok paginya saya nggak berani 'klayapan' sampe jam 11 malam. Takut kesiangan...

Sekali lagi terima kasih mas Butet untuk 'pengarahan'-nya lain kali aku akan kembali ke Jogja. Pinginnya nerusin S-2 di Jogja sih...

PS: di Jl. Dagen ada toko yang jualan/produksi bakpia yang rasanya nyuuuusss...
Beda dengan bakpia lain dan kemasan kotaknya lebih OK karena gak pake angka-angka.