Ingin Menjadi Penulis?
Rajinlah Membaca…
Oleh : Kukuh Priyo Susanto
Beberapa orang beranggapan menulis itu mudah, dan beberapa lainnya menganggap betapa sulitnya untuk memulai menulis. Tulisan adalah ungkapan pikiran, perasaan, dan apapun yang ada dalam benak seseorang yang dituangkan dalam rangkaian kalimat yang memiliki arti, maksud dan tujuan tertentu.
Tidak banyak orang yang bercita-cita untuk menjadi penulis. Kalu kita bertanya kepada seorang anak tentang cita-citanya kelak, pastilah tidak ada yang dengan serta merta menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang penulis. Sepertinya menjadi penulis bukan sebuah profesi yang menjanjikan, mungkin secara materi.
Tidak ada yang mau dan mampu ‘mengabdikan’ dirinya untuk menjadi penulis. Akhirnya, menulis hanya sekedar dijadikan hobi, mengisi waktu luang, tempat curahan hati dan berbagai maksud lain yang tidak memiliki ‘nilai ekonomi’ di dalamnya.
Banyak himbauan dan ajakan untuk menulis, banyak undangan untuk mengisi kolom berbagai buletin, majalah, atau bahkan blog. Bahkan saat ini gencar sekali diadakan workshop dengan tema 'kiat menjadi penulis profesional'. Banyak orang ingin bisa menulis. Banyak yang ingin bisa buat buku, mengisi sebuah kolom di surat kabar, atau majalah. Sebagian malah bercita-cita menjadi 'blogger sejati'.
Menulis memang mengasyikkan. Dengan menulis kita bisa meng-ekspresikan apa yang ada dalam setiap detik pikiran kita, imajinasi kita bahkan angan-angan yang kadang tidak masuk akal.
Untuk yang awam, menulis itu sulit. Butuh kreatifitas, butuh waktu, butuh tenaga dan pikiran bahkan nantinya nggak sedikit uang yang dibutuhkan sebagai 'modal' untuk menulis.
Akhirnya, dari himbauan dan ajakan untuk menulis, mengisi kolom di buletin dan majalah, dan mengisi blog disambut dengan tidak semeriah ketika ada ajakan untuk piknik, atau ajakan untuk 'hang-out'.
Banyak mahasiswa yang menemui kendala ketika mereka harus menulis laporan akhir ketika akan menyelesaikan program kuliahnya. Banyak dari mereka yang tidak tahu harus mulai dari mana. Hal ini kembali diperparah ketika mereka gagal menemukan dosen pembimbing skripsi yang bisa memberikan arahan kepada mereka dalam menulis, karena menulis dalam skripsi bukan hanya sekedar memindahkan data dan fakta dalam bentuk tulisan akan tetapi masih diberlukan rangkaian kata dan kalimat yang membuat tampilan data dan fakta tadi menjadi menarik dan mudah dimengerti oleh pembacanya.
Ada sebuah pendapat yang menyatakan bahwa metode menulis yang paling mudah menuangkan apa saja yang ada dalam pikiran kita. Biasanya berupa pengalaman masa lalu, pengalaman perjalanan atau petualangan.
Seorang teman memiliki kebiasaan mencatat berbagai peristiwa atau momen yang dialaminya. Dicatatnya tanggal kejadian, jam sampai detik. Saat ini dia mulai memetik hasilnya dengan merangkai peristiwa tersebut ke dalam blog pribadinya.
Dahlan Iskan juga pernah membagikan tips bagaimana menjadi penulis. Tips yang paling sederhana adalah memperhatikan deskripsi. Dengan deskripsi yang baik dan detail akan seolah-olah mengajak pembaca untuk masuk ke dalam alur cerita tulisan tersebut. Pembaca seolah-olah terhanyut dalam rangkaian kata-kata penulis karena deskripsi yang diberikan begitu bagus dan detail. Dengan deskripsi yang bagus dan detail maka tidak akan mengakibatkan ganjalan atau opini yang tidak sesuai dengan alur tulisan.
Tips yang kedua yang paling sederhana adalah, selalu menggunakan kalimat-kalimat pendek. Apabila penulis sering menggunakan kalimat-kalimat panjang tanpa jedah, maka akan mengakibatkan kebosanan bagi pembaca. Lama-kelamaan pembaca akan merasa (maaf) mau muntah apabila terus membaca tulisan tersebut.
Dilain pihak ada yang berpendapat menulis menjadi sulit karena kita tidak terbiasa membaca. Dengan kata lain, minat kita untuk membaca masih 'dibawah normal'.
Bagaimana kita bisa menulis kalau tidak pernah membaca. Orang yang senang membaca biasanya akan 'terketuk' hatinya untuk ikut menulis. Gaya tulisan seseorang akan dipengaruhi oleh bacaan orang tersebut.
Banyak-banyaklah membaca, mudah-mudahan nantinya kita juga akan suka menulis. Dewi Lestari [Dee] yang terkenal dengan buku 'Supernova'-nya pastilah juga dia seorang yang suka membaca. Juga penulis-penulis lain semisal JK. Rowling.
Hal ini akhirnya sama seperti sebuah pertanyaan : "Lebih dulu mana, antara telur dan ayam", yang sama saja dengan "Lebih dulu mana, antara membaca dan menulis".
Ketika dulu kita di bangku SD atau bahkan sekarang anak-anak TK, pertama-tama yang dikenalkan oleh guru adalah huruf yang kemudian dirangkai menjadi kata untuk dieja, diucapkan. Kemudian kata dirangkai menjadi kalimat pendek. Baru...proses selanjutnya kita diajari menulis.
MEMBACA
Dalam artikelnya yang dimuat pada majalah SWA 09 Januari 2008, H.B. Supiyo mengungkapkan - Saya bersyukur dapat menikmati kegemaran membaca dalam keluarga saya.
Istri, empat anak, dan saya sendiri dikaruniai kegemaran membaca yang telah tertanam, tumbuh dan berkembang tanpa dukalara. Saya teringat kata-kata bijak Francis Bacon yang bergelar Lord Verulam (1561-1626) berikut ini : Reading maketh a full man, conference a ready man, and writing an exact man. (Membaca menciptakan manusia seutuhnya, konferensi menciptakan manusia siap pakai, dan menulis menciptakan manusia sejati).
Taufik Ismail pernah berujar bahwa sebagian masyarakat kita sekarang tengah dilanda krisis membaca. Banyak faktor yang terkait dengan masalah hilangnya kegemaran membaca ini. Salah satu peran indah untuk membangun atau membangkitkan niat membaca, saya kira, berada di tangan dan hati setiap keluarga. Ayah dan ibu berperan sebagai model untuk anak-anak, bahkan juga cucu-cucu mereka.
Gemar dan tekun membaca mengantarkan seseorang ke langkah berikutnya, yaitu menulis, yang suatu saat bakal mendekatkan dia ke lahan yang mengilhami penulisan.
Seorang penikmat membaca biasanya mempunyai sejumlah koleksi buku – untuk tidak menamakannya perpustakaan pribadi – di rumahnya. Beragam buku tertata di atas meja tulis ataupun rak kecil sederhana. Ada kelompok fiksi, ada pula nonfiksi berbahasa Indonesia dan Inggris. Dengan penghasilan terbatas, ia menyisihkan sedikit dana untuk belanja buku. Paling tidak, setiap bulan ia membeli satu buku pilihan. Ia juga menyusun jadwal untuk membaca habis sebuah buku baru setiap bulan. Kecuali, buku yang tebalnya 400-450 halaman dan isinya terbilang relatif berat. Mungkin membaca yang paling mudah adalah membaca alam semesta. Pendapat Eileen Rachman mengenai membaca alam semesta, ia mencatat 7 keuntungan utama membaca alam semesta. Yakni : (1) Mengusir keraguan, kecemasan, dan kesedihan; (2) Menebalkan keimanan karena sesungguhnya bacaan adalah pelajaran yang paling besar, peringatan yang paling agung, pencegah kemungkaran yang paling efisien, dan perintah yang paling bijak; (3) Melemaskan lidah dan menghiasi diri dengan kefasihan berbicara; (4) Mengembangkan wawasan berpikir dan memperbaiki persepsi; (5) Mengambil manfaat dari pengalaman orang lain; (6) Menelaah berbagai kebudayaan yang menumbuhkan kesadaran akan perannya dalam kehidupan manusia; (7) Menjaga kalbu dari kekacauan dan memelihara waktu dari kesia-siaan.
Bondan Winarno yang saat ini lebih dikenal sebagai pakar kuliner, sejatinya beliau adalah seorang wartawan yang memiliki kegemaran menjelajahi negara-negara di dunia. Dalam setiap pengembaraannya beliau selalu menyempatkan mengabadikan dalam tulisan. Saat ini beliau masih aktif menulis sebuah kolom di Kompascommunity.
Pada kesempatan ini saya tidak akan menyinggung perpustakaan dalam perannya ikut meningkatkan minat baca masyarakat. Sepertinya sudah banyak upaya perpustakaan dalam hal ini. Hasilnya dapat dilihat saat ini bahwa jumlah kunjungan masyarakat ke perpustakaan. Seperti contohnya di Badan Perpustakaan Daerah Kota Malang yang setiap harinya didatangi ribuan pengunjung yang ingin memanfaatkan perpustakaan. Sepertinya upaya perpustakaan sudah maksimal, namun masih saja belum dapat memenuhi ‘dahaga’ masyarakat dalam memenuhi keinginannya untuk membaca. Seakan-akan perpustakaan selalu kewalahan dan seperti ‘kehabisan nafas’. Bahkan saat ini dapat dilihat di toko-toko buku besar seperti Gramedia yang di setiap lorongnya seakan-akan berubah menjadi taman bacaan. Dalam kasus ini beruntung Pak Jakob Oetama memperbolehkan pengunjung membaca-baca buku dengan konsekwensi buku menjadi rusak atau kumuh. Di benak banyak orang, tertanam anggapan bahwa "minat baca" itu rendah; tapi toko buku dan pameran buku selalu ramai.
Memiliki kebiasaan membaca dan memiliki pengalaman hidup yang segudang akan membawa seseorang kepada sebuah keinginan untuk menuangkannya dalam tulisan yang kemungkinan nantinya menjadi buku. Siapa yang bisa menyangka apabila buku itu laku di pasaran dan menjadi “BEST SELLER”.
Ayo kita membaca [dan menulis] …
Bahan Bacaan :
Disarikan dari hasil diskusi mengenai “Minat Baca” di mailing list the_ics@yahoogroups.com
Sabtu, April 26, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar